HMHI Luncurkan Aplikasi Hemofilia Indonesia

Mudahkan pasien hemofilia teregistrasi

Jakarta, IDN Times – Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) meluncurkan aplikasi Hemofilia Indonesia registrasi nasional berbasis android bagi penyandang hemofilia, di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (4/3).

Peluncuran aplikasi ini dihadiri oleh Ketua HMHI Prof dr. Djajadiman Gatot, Sp. A (K), Staf ahli Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Bidang Ekonomi dr. H. M. Subuh, MPPM, dan perwakilan penderita Hemofilia.

1. Hemofilia penyakit langka

Ketua HMHI Prof dr. Djajadiman Gatot, Sp. A (K) mengungkapkan, hemofilia merupakan kelainan pada darah yang langka, menyebabkan penderita mengalami pendarahan sulit berhenti.

“Untuk dapat memeroleh penanganan yang tepat, pasien-pasien ini perlu diidentifikasi dengan pemeriksaan yang tepat pula agar dapat memperoleh pengobatan,” kata dia.

2. Jumlah penyandang hemofilia capai 2.076 jiwa

Prof dr. Djajadiman Gatot mengungkapkan, sampai Juni 2018 jumlah penyandang hemofilia yang tercatat mencapai 2.076 jiwa. Sayangnya, angka ini jauh dari estimasi yang diperhitungkan, yaitu sekitar 26 ribu jiwa yang diindikasi terdiagnosis hemofilia.

“Kurang tersosialisasinya pengetahuan seputar hemofilia membuat penyakit ini kurang dikenal oleh masyakat. Padahal jika lambat tertangani, penderita akan mengalami cacat seumur hidup sehingga harus dideteksi sejak dini,” ujar dia.

3. Registrasi paper base temukan banyak kendala

Wakil ketua HMHI Bidang Medis, Dr. dr. Novie Amekia Chozie, menambahkan bahwa registrasi hemofilia sebenarnya sudah dilakukan sejak 1998 menggunakan paper base. Namun, banyak kendala saat dilakukan pendataan mulai dari bentuk negara kepulauan menyebabkan banyak daerah yang belum terjangkau, kurangnya sumber tenaga kerja, sampai dana.

“Kendala tersebut menimbulkan data yang terjaring kurang akurat dan tidak seragam,” ungkap Novie.

4. Aplikasi Hemofilia Indonesia mudahkan pasien terdaftar

Novie pun melanjutkan, HMHI meluncurkan aplikasi Hemofilia Indonesia yang memudahkan pasien hemofilia dan gangguan pendarahan lain tercatat dalam sebuah sistem registrasi nasional.

“Melalui aplikasi ini, pasien bisa melakukan registrasi langsung dalam data base nasional. Setelah terverifikasi, pasien dapat kartu identitas agar saat terjadi gawat darurat, rumah sakit bisa memeroleh informasi dan bisa ditangani secara cepat dan tepat,” papar Novie.

5. Hemofilia masuk sepuluh penyakit dengan pengeluaran negara terbesar

Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp. M (K), melalui Staf Ahli Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Bidang Ekonomi dr. H. M. Subuh, MPPM, mengakui pemeriksaan dini penderita hemofilia sangat penting untuk mencegah komplikasi.

Dia menambahkan, hemofilia merupakan penyakit tidak menular yang menduduki peringkat ketujuh dalam beban pengeluaran BPJS Kesehatan, sebesar Rp71,25 miliar dari 2014 sampai awal 2019.

“Pengobatan hemofilia memang tidak murah, namun ini jadi kewajiban negara sehingga kami mengapresiasi inovasi ini untuk mendeteksi hemofilia sejak dini,” kata Subuh.

https://www.idntimes.com/news/indonesia/dini-suciatiningrum/hmhi-luncurkan-aplikasi-hemofilia-indonesia/full?fbclid=IwAR2-w_63nf06gvpqXlTuiZktHAVsj3E4tyxNUDBtcStj_AVtbxhRCSmoKqs

#hemofilia #hemofiliaindonesia #hemophilia #hmhi