Beranda
 Apa Itu Hemofilia ?
 Sejarah Hemofilia
 Keturunan Hemofilia
 Komplikasi
 Perawatan Hemofilia
 Hal - Hal Penting
 Von Willebrand
 Agenda Kegiatan
 Liputan Kegiatan
 Artikel
 Rumah Sakit Rujukan
 Media Publikasi
 Tentang Kami
 Youth Hemophilia
 Buku Tamu
   
 
Bergabung dengan
Miling List Hemofilia Indonesia
Powered by 
health.groups.yahoo.com
 
 
 
 
 
 
 
Sejarah Hemofilia

28389 hit(s)

Kapan Pertama Kali Hemofilia di Temukan ?

Sebenarnya hemofilia telah ditemukan sejak lama sekali, dan belum memiliki nama. Talmud, yaitu sekumpulan tulisan para rabi Yahudi, 2 abad setelah masehi menyatakan bahwa seorang bayi laki-laki tidak harus di khitan jika dua kakak laki-lakinya mengalami kematian akibat di khitan.

Seorang dokter asal Arab, Albucasis, yang hidup pada abad ke 12 telah menulis tentang sebuah keluarga yang setiap anak laki-lakinya meninggal setelah terjadi perdarahan akibat luka kecil.

Kemudian pada tahun 1803, Dr. John Conrad Otto, seorang dokter asal Philadelphia menulis sebuah laporan mengenai perdarahan yang terjadi pada suatu keluarga tertentu saja. Ia menyimpulkan bahwa kondisi tersebut diturunkan hanya pada pria. Ia menelusuri penyakit tersebut pada seorang wanita dengan tiga generasi sebelumnya yang tinggal dekat Plymouth, New Hampshire pada tahun 1780.

Kata hemofilia pertamakali muncul pada sebuah tulisan yang ditulis oleh Hopff di Universitas Zurich, tahun 1828. Dan menurut ensiklopedia Britanica, istilah hemofilia (haemophilia) pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter berkebangsaan Jerman, Johann Lukas Schonlein (1793 - 1864), pada tahun 1928.

Sepanjang hidupnya Schonlein berusaha menjadikan kedokteran sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan alam. Upaya Schonlein dalam hal inilah yang memungkinkan kedokteran mengembangkan metode pengajaran dan praktek kedokteran klinik.

Schonlein yang adalah seorang guru besar kedokteran di tiga universitas besar di Jerman - Wurzburg (1824 - 1833), Zurich (1833 - 1830) dan Berlin (1840 - 1859) - adalah dokter pertama yang memanfaatkan mikroskop untuk melakukan analisis kimiawi terhadap urin dan darah guna menegakkan diagnosis atas penyakit yang diderita seorang pasien.

Hemofilia seringkali disebut dengan "The Royal Diseases" atau penyakit kerajaan. Ini di sebabkan Ratu Inggris, Ratu Victoria (1837 - 1901) adalah seorang pembawa sifat/carrier hemofilia. Anaknya yang ke delapan, Leopold adalah seorang hemofilia dan sering mengalami perdarahan. Keadaan ini di beritakan pada British Medical Journal pada tahun 1868. Leopold meninggal dunia akibat perdarahan otak pada saat ia berumur 31 tahun. Salah seorang anak perempuannya, Alice, ternyata adalah carrier hemofilia dan anak laki-laki dari Alice, Viscount Trematon, juga meninggal akibat perdarahan otak pada tahun 1928.

Hal terpenting dalam sejarah hemofilia adalah keberadaan penyakit tersebut di dalam keluarga kerajaan Rusia. Dua dari anak perempuan Ratu Victoria, Alice dan Beatrice, adalah carrier. Mereka menyebarkan penyakit hemofilia ke Spanyol, Jerman dan Keluarga Kerajaan Rusia.

Alexandra, cucu perempuan dari Ratu Victoria, menikah dengan Tsar Nicholas II, Kaisar Rusia, pada awal tahun 1900-an. Alexandra seorang yang telah menjadi Ratu Rusia, adalah seorang carrier hemofilia, dan anak laki-lakinya yang pertama, Pangeran Alexei adalah penderita hemofilia. Nicholas dan Alexandra menaruh perhatian penuh terhadap masalah kesehatan anak mereka, pada saat itu Rusia sedang dalam keadaan kacau. Seorang biarawan Rusia, Rasputin, memperoleh keuntungan dengan pengaruhnya yang besar dalam lingkungan kerajaan Rusia, sebagian di karenakan hanya dia satu - satunya yang dapat menolong sang Pangeran Muda. Ia menggunakan ilmu sihirnya-nya untuk menghilngkan rasa sakit Alexei. Penggunaan ilmunya tidak hanya menghilangkan rasa sakit, tapi juga dapat memperlambat dan menghentikan perdarahan Alexei. Penderitaan yang dialami pewaris tahta kerajaan Tsar, ketegangan yang terjadi di dalam keluarga kerajaan, dan ulah biarawan Rasputin yang gila kekuasaan, adalah faktor-faktor yang memicu munculnya Revolusi Rusia pada tahun 1917.

Tsar Nicholas II dan putra mahkota, Alexei

 

Sejarah homofilia di abad ke 20

Pada abad ke 20, pada dokter terus mencari penyebab timbulnya hemofilia. Hingga mereka percaya bahwa pembuluh darah dari penderita hemofilia mudah pecah. Kemudian pada tahun 1937, dua orang dokter dari Havard, Patek dan Taylor, menemukan pemecahan masalah pada pembekuan darah, yaitu dengan menambahkan suatu zat yang diambil dari plasma dalam darah. Zat tersebut disebut dengan "anti - hemophilic globulin". Di tahun 1944, Pavlosky, seorang dokter dari Buenos Aires, Argentina, mengerjakan suatu uji coba laboratorium yang hasilnya memperlihatkan bahwa darah dari seorang penderita hemofilia dapat mengatasi masalah pembekuan darah pada penderita hemofilia lainnya dan sebaliknya. Ia secara kebetulan telah menemukan dua jenis penderita hemofilia dengan masing - masing kekurangan zat protein yang berbeda - Faktor VIII dan Faktor IX. Dan hal ini di tahun 1952, menjadikan hemofilia A dan hemofilia B sebagai dua jenis penyakit yang berbeda

Kemudian di tahun 1960-an, cryoprecipitate ditemukan oleh Dr. Judith Pool.Dr. Pool menemukan bahwa pada endapan di atas plasma yang mencair mengandung banyak Faktor VIII. Untuk pertama kalinya Faktor VIII dapat di masukkan pada penderita yang kekurangan, untuk menanggulangi perdarahan yang serius. Bahkan memungkinkan melakukan operasi pada penderita hemofilia.

Di akhir tahun 1960-an dan sekitar awal 1970-an, intisari yang berisi Faktor VIII dan Faktor IX yang dikemas dalam bentuk bubuk yang kering dan beku telah ditemukan. Sehingga dapat disimpan di rumah dan digunakan sewaktu - waktu jika dibutuhkan. Dan sekarang para penderita hemofilia tidak selalu tergantung pada rumah sakit. Mereka dapat melakukan perjalanan, bekerja dan hidup normal. Tragisnya, beberapa pengobatan yang dihasilkan dari darah telah tercemar beberapa jenis virus, seperti hepatitis c dan HIV. Banyak penderita hemofilia yang terkena dampaknya.

 

Hemofilia di Indonesia

Meskipun hemofilia telah lama dikenal di dalam kepustakaan kedokteran, tetapi di Jakarta baru tahun 1965 diagnosis laboratorik diperkenalkan oleh Kho Lien Keng dengan Thromboplastin Generation Time (TGT) di samping prosedur masa perdarahan dan masa pembekuan. Pengobatan yang tersedia di rumah sakit hanya darah segar, sedangkan produksi Cryoprecipitate yang dipakai sebagai terapi utama hemofilia di Jakarta, diperkenalkan oleh Masri Rustam pada tahun 1975.

PELAYANAN TERPADU HEMOFILIA JAKARTA

Atas jasa Profesor Issarangkura dari Thailand yang telah memperkenalkan program World Federation of Hemophilia maka Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah mulai mengorganisir pelayanan hemofilia. Pada saat itu 81 pasien hemofilia telah didiagnosis di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Cryoprecipitate merupakan terapi utama, dan biaya untuk produksi atau service cost dibayar dengan dana rumah sakit. Konsumsi cryoprecipitate sekitar 8.000 kantong yang setara dengan 500.000 unit F-VIII per tahun.

Melalui International Hemophilia Training Center dari WFH, telah diberikan biaya untuk pelatihan 4 orang tenaga medis di luar negeri dan beberapa sponsorship untuk penyelenggaraan workshop dalam bidang hemofilia, kedokteran transfusi, dan bergabung dalam twinning program dengan Pusat Hemofilia Bangkok.

Pada tahun 1995, dimulai upaya untuk mengumpulkan data dari beberapa tempat di Indonesia. Pada waktu itu, responsnya masih sangat kurang, hanya 288 pasien hemofilia yang dilaporkan.

Pada tahun 1997, dibentuk tim pelayanan terpadu untuk hemofilia. Tim ini terdiri atas spesialis anak, penyakit dalam, patologi klinik, ortopedik, rehabilitasi medik, dokter gigi, psikiatri, kedokteran transfusi dan perawat. Mereka memberikan pelayanan sesuai disiplinnya masing-masing, dan tiap masalah didiskusikan dalam pertemuan berkala. Yayasan Hemofilia Indonesia juga dibentuk pada tahun yang sama. Bersama dengan yayasan, pengumpulan data terus dilanjutkan.

Pada tahun 2000 hemofilia yang dilaporkan ada 314, pada tahun 2001 kasus yang dilaporkan mencapai 530. Diantara 530 kasus ini, 183 kasus terdaftar di RSCM, sisanya terdaftar di Bali, Bangka, Bandung, Banten, Lampung, Medan, Padang, Palembang, Papua, Samarinda, Semarang, Surabaya, Ujung Pandang dan Yogyakarta.

Di antara 183 pasien hemofilia yang terdaftar di RSCM, 100 pasien telah diperiksa aktivitas faktor VIII dan IX. Hasilnya menunjukkan 93 orang adalah hemofilia A dan 7 pasien adalah hemofilia B. Sebagian besar pasien hemofilia A mendapat cryoprecipitate untuk terapi pengganti, dan pada tahun 2000 konsumsi cryoprecipitate mencapai 40.000 kantong yang setara dengan kira-kira 2 juta unit faktor VIII.

Pada tahun 2001, Tim Pelayanan Terpadu Hemofilia menerima bantuan konsentrat F VIII dari WFH dan American Red Cross. Konsentrat F VIII ini telah digunakan untuk mengatasi berbagai episode perdarahan dan beberapa operasi. Konsumsi cryoprecipitate menurun menjadi 34.000 kantong.

Dengan kondisi Tim Pelayanan Terpadu Hemofilia telah dicapai beberapa keberhasilan antara lain operasi total knee replacement, V-P shunt, pengobatan pasien dengan perdarahan berat dan alergi terhadap cryoprecipitate dan 2 kasus perdarahan berat dengan inhibitor. Sampai saat ini inhibitor F VIII telah dideteksi pada 9 pasien Hemofilia yaitu 4 dari Jakarta, 3 dari Jawa Barat dan 1 dari Bangka.

Dari pemeriksaan skrining yang telah dilakukan pada 94 pasien hemofilia di Jakarta, didapatkan tidak ada yang terinfeksi HIV (0%), yang terinfeksi HCV 44 orang (47%) dan yang terinfeksi HBV 5 orang (5%).

Pada saat ini Tim Pelayanan Terpadu juga mempunyai komunikasi yang baik dengan Tim Hemofilia dari negara lain. Pada Hari Hemofilia Sedunia tahun 2002, Pusat Pelayanan Terpadu Hemofilia RSCM telah ditetapkan sebagai Pusat Pelayanan Terpadu Hemofilia Nasional.

Pada tahun 2002 pasien hemofilia yang telah terdaftar di seluruh Indonesia mencapai 757, diantaranya 233 terdaftar di Jakarta, 144 di Sumatera Utara, 92 di Jawa Timur, 86 di Jawa Tengah dan sisanya tersebar dari Nanggroe Aceh Darussalam sampai Papua.

 
Referensi :
- Canadian Hemophilia Society, The history of hemophilia - 1999
- Anonymous, WHO-WFH recommendations, June, 1997: Haemophilia 4(suppl.2), 64-66, 1998
2. Srivastava A. Delivery of Hemophilia Care in Developing World. Hemophilia 4(suppl.2) 33-40, 1998.
- Mannucci PM, Tuddenham EGD. The Haemophilia: progress and problems. A century of Hematology, Seminar in Hematology, 4(suppl. 7), 104-107, 1999.
- Ingram GIC. The History of Haemophilia. Haemophilia, 3(suppl.1), 5-15, 1997.
- Prof. Dr. Moeslichan, dr. R. Setiabudy, dr. Agi Haliani, Development Hemophilia Comprehensive Care Unit in Jakarta, FKUI RSCM Jakarta. Kongres Nasional IX Perhimpunan Hematologi dan Tranfusi Darah Indonesia dan Temu Ilmiah Nasional Hematologi, Onkologi Medik dan Kedokteran Transfusi. Hotel Patra Jasa Semarang 7-9 September 2001

 
   
 
 
   
 
© Copyright Indonesian Hemophilia Society - 2007   Created By Gugun