Selamat Kepada Pemenang Lomba Cerpen HMHI 2019, Kategori Orang Tua dan Anak

Peserta Lomba Cerita Pendek untuk Kategori Orang Tua dan Keluarga diikuti oleh 13 orang peserta. Dari beberapa karya yang masuk pilihan Juri akhirnya tertuju kepada karya seorang ibu dengan memiliki 2 orang anak lelaki dengan Hemophilia. Beliau adalah Nun Fauziah Hasyim yang berasal dari Gowa – Sulawesi Selatan. Ibu Nun Fauziah berhasil terpilih sebagai Pemenang Lomba Cerita Pendek Kategori Orang tua dan Keluarga.

Tulisan Ibu Nun Fauziah terpilih karena karyanya sesuai dengan syarat yang diajukan. Selain bercerita, karyanya ini mengandung dialog, informasi dan pesan positif tentang hidup bersama Hemophilia.



AYAH – HEMOFILIA


“Mengapa kau tak menangis, Gung? Apa kau tidak sedih?”

Agung menoleh ke kiri. Menatap sahabatnya sejenak. Kemudian kembali memandang ke depan. Ke arah dimana seolah-olah ia tak ingin membiarkan waktu sedikitpun untuk merenggut kebersamaan yang tinggal menghitung jam.

“Jangan tanyakan perasaanku. Karena sesungguhnya hati ini jauh lebih sakit dan lebih kehilangan dibanding mataku.” Agung menelan liur yang terasa pahit. Jakunnya naik turun. Ia menunduk dan mengedip-ngedipkan matanya kemudian kembali menegakkan kepala.

Kerabat dekat dan jauh, tetangga, rekan-rekan ayah dan ibunya bergantian masuk ke rumah mungilnya. Rumah peninggalan kakeknya yang hanya direnovasi sedikit di bagian dapur. Sementara bagian depan masih tetap seperti dua puluh tahun yang lalu.

Jenazah ayah dibaringkan di ruang tamu. Beralas kasur kecil yang biasa dipakai Agung terutama ketika ia mengalami perdarahan sendi ataupun perdarahan otot yang menyababkannya sulit untuk beraktivitas sendiri. Agung adalah bungsu dari tiga bersaudara. Tapi, ketika ada yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan jenazah ayah, dialah yang berdiri paling cepat. Agung sadar, dialah yang paling sering merepotkan ayahnya selama ini. Kakaknya, Maya dan Inara terlahir sehat. Sementara, ia ditakdirkan mewarisi penyakit yang sama dengan yang dialami oleh saudara laki-laki ibunya, Hemofilia.

“Agung, kau sepertinya lelah sekali,” Naufal menepuk bahu Agung yang duduk selonjoran dan menyandarkan kedua tangannya di lantai. Ia berusaha mengingatkan teman sebangkunya yang sering absen di kelas karena harus di rawat di rumah sakit.

“Iya. Makanya saya istirahat dulu sedikit,” jawabnya santai sambi mengelap keringat yag mengucur di dahidengan punggung tangannya.

“Tidak usah dilanjut yah mainnya. Nanti kakimu membengkak lagi.” Naufal ikut duduk selonjoran di samping Agung.

“Sudah biasa, Fal,” Agung tersenyum ringan sambil tetap menikmati permainan bola yang dilakukan oleh teman-teman sekelasnya. Tapi kemudian sedikit bergidik saat mengingat sakitnya saat ia mengalami perdarahan pada sendi lutut seperti yang ia alami dua bulan yang lalu.

Lalu, ingatannya melayang pada ayah yang saat itu mendapat surat peringatan dari kantor karena terlalu lama meninggalkan pekerjaannya demi menemani Agung di rumah sakit. Ia segera berdiri. Menepuk-nepuk celananya yang berlapis debu lapangan.

Cedera sehabis bermain bola, bukanlah kali pertama yang dirasakannnya. Namun, entah mengapa ayah tidak pernah melarangnya melakukan aktifitas tersebut. Ayah hanya mengingatkannya untuk segera beristirahat ketika lelah. Namun, seringkali lelah itu tidak dirasakannya ketika sedang asyik-asyiknya bermain. Dan saat itu, lutut kanan Agung mulai membengkak dan meninggalkan rasa sakit yang luar biasa.

“Agung, kita injek dulu,”

“Tidak usah, Ayah. Jadwal kontrolnya kan masih dua pekan lagi”

“Iya, tapi itu lututmu. Masak mau tunggu sampai dua pekan.”

“Dikompres saja pakai air es.”

“Agung, kamu ini hemofilia berat. Dengn faktor pembekuan darah nol persen. Sebentar lagi ujian. Ayah tidak mau kamu absen saat ujian hanya karena kamu tidak bisa merawat diri sendiri.” Kali ini nada suara Ayah lebih tegas.

“Ayah…” Agung menunduk “Agung bosan dengan penyakit ini. Apakah penyakit ini benar-benar tidak bisa sembuh?”

Ayah yang tadi menyiapkan keperluan untuk ke rumah sakit, kini mendekat dan duduk di sebelah Agung.

“Agung..” Ayah bicara pelan. menatap anak bungsunya yang sedang menunduk sambil sesekali terlihat merintih dengan suara yang amat pelan hanya agar tidak ketahuan bahwa ia sedang kesakitan. “Sejak dulu, Ayah telah mewanti-wanti hal ini. Bahwa ada masanya dimana kau merasa bosan menjalani hidup dengan penyakit. Kau sadar, mengapa selama ini Ayah tidak pernah melarangmu melakukan permainan apapun yang kamu suka?

Agung megangkat muka lalu menggeleng. Menatap ayah dengan segala gurat kelelahan yang tampak di wajahnya. Hal yang selama ini ingin ia tanyakan namun tak berani.

“Itu agar kau dapat tetap menikmati kelebihan yang diberikan Tuhan untukmu. Kau adalah satu-satunya laki-laki di rumah ini selain ayah. Ayah ingin kau tumbuh menjadi laki-laki yang tidak cengeng. Kau, meski sakit, harus bisa menjadi menjadi pelindung bagi ibu, kak Maya dan Kak Inara. Karena ada saatnya dimana ayah harus pergi dan kaulah yang akan menggantikan tanggung jawab ayah di dalam rumah ini. Oleh karena itu, mulai sekarang, Ayah ingin agar kau paham bagaimana merawat diri sendiri.s”

“Maksud Ayah?” Agung tidak mengerti dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh orang yang selalu melindunginya.

“Akan kau pahami suatu saat nanti. Ayo kita ke rumah sakit. Sekarang.”

———

Demikian kami sampaikan Pengumuman Lomba yang kami adakan dan kepada seluruh Pemenang kami ucapkan Selamat atas karyanya. Besar harapan kami, Lomba ini dapat memberikan motifasi untyuk terus berkarya dan mengasah diri agar dapat lebih maju lagi di kemudian hari.

Kepada Pemenang yang akan mendapatkan :
Notebook

Pemenang Lomba Cerita Pendek Kategori Hemophiliac dibawah Usia 18 tahun.

Pemenang Lomba Cerita Pendek Kategori Hemophiliac diatas Usia 18 tahun.

Telepon Pintar (Smart Phone)

Pemenang Lomba Cerita Pendek Kategori Orang tua dan Keluarga

Pemenang Lomba Vlog untuk Kategori Hemophiliac diatas usia 18 tahun

Pemenang Lomba Vlog untuk Kategori Hemophiliac dibawah usia 18 tahun

Panitia Penyelenggara akan menghubungi untuk proses pengiriman hadiah lomba ini.

Terima kasih kami ucapkan kepada Rudi Soedjarwo atas kesediannya menjadi Juri Utama serta Juri lainnya :

Dr. dr Novie Amelia Chozie, SpA(K)

dr. Fitri Primacakti, SpA(K)

Ir Daru Indriyo

Muhammad Gunarso, S.Kom.

Novi Riandini, S.Kom.

Dr. Endang Mariani, MSi

Bogar Baskoro, SKM
yang telah berkenan menjadi Juri ditengah kesibukannya yang sangat padat.

Sebagai penutup, kami juga mengucapkan terima kasih atas dukungan penuh dari Roche Indonesia, sehingga Lomba ini dapat berlangsung dengan baik dan lancar.

Hormat kami,
Prof. dr. Djajadiman Gatot, SpA(K)

Ketua

Indonesian Hemophilia Society

(Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia)

#hemofilia #hemofiliaindonesia #hemophilia #hmhi