Selamat Kepada Pemenang Lomba Cerpen HMHI 2019, Kategori Hemophiliac Diatas Usia 18 tahun

Peserta Lomba Cerita Pendek untuk Kategori Hemophiliac diatas usia 18 tahun di ikuti oleh 25 orang peserta.


Dari banyak karya yang masuk pilihan Juri akhirnya tertuju kepada  karya Cepi Kurniawan sebagai Pemenang Lomba Cerita Pendek Kategori Hemophiliac diatas Usia 18 tahun. Cepi yang tinggal di Kota Serang – Banten terdiagnosa Hemophilia A sejak beliau berusia 3 bulan. 

Dalam karyanya Cepi mampu menuangkan pengalamannya kedalam cerita pendek sesuai dengan syarat yang diajukan oleh Juri

Selain itu, karya Cepi ini pun memberikan warna tersendiri tentang perjuangan seorang Ayah Hemofilia dan dapat menjadi teladan bagi para ayah Hemofilia lainnya. 

 

Aku, Ayah dan Hemofilia 

Jam menunjukkan pukul 12.00 wib dinihari, sunyi sepi meyelimuti malam, hanya suara binatang malam dan suara tangisan aku dipundak ayahku. Air mata mengalir deras dikedua mataku, suara lirih dari orang yang kucinta terdengar menyejukkan, “ Sabar ya nak, nanti jugas embuh ga sakitl agi, berdoa terus sama Allah minta sehat nak,” ayah membisikan pelan dideka ttelingaku. Tak terasa aku pun tertidur dipangkuan ayah. Rasa sakit yang melanda dan menyerang sendi dilutut kananku begitu menusuk tak tertahankan. Hemofilia penyakit yang aku derita, penyaki tkekurangan zat pembekudarah atau kekurangan factor 8. Penyakit ini penyakit Gen atau keturunan yang masih jarang didunia ini.

Aku terjaga dari tidurku setelah suara lirih seorang perawat membangunkanku , “ Pa, maaf ya disuntik obat dulu,” ujar perawat sambil tersenyum ramah. Aku menggeser tubuhku sambil mengangguk.Ternyata aku mimpi waktu kecil bersama ayah, aku masih diruang perawatan rumah sakit ternyata. Dalam tidur tadi aku teringat ayah yang selalu menggendongku ketikaa kumerasakan kesakitan yang luar biasa.Ayah selalu dengan saba rmerawatku, walaupun kadang tengah malam saya terserangs akit yang ama tsangat, ayahku selalu bang ununtuk menggendong dan membisikan kata-kata yang menyejukan hati. Aku merasa betapa sabar ayah merawatku, walau tengah malam terbangun dan besok bekerja ayah tak pernah mengeluh. Selalu mengantarkan aku berobat rutin ke Rumah sakit di Jakarta yang berjarak 90 KM dari tempat tinggalku. Berangkat subuh pulang jam 10 malam. Dan memang obat tersebut hanya ada di Rumah sakit Jakarta. Belum sampai kedaerahku waktu aku masih sekolah dasar( SD ).

Kini obat hemophilia sudah ada didaerahku. Perjuangan yang sangat panjang biar obat tersebut biasa didapatkan di daerah tempat tinggalku. Kini aku sedang terbaring di rumah sakit, mengalami perdarahan dibagian kepala. “ Bapa sudah scanning keberapa ya bu? Tanya dokter kepada istriku. “ Yang kedua dok,” jawab istriku. Perdarahan yang aku alami ini begitu luar biasa sakitnya. Dalam tidurku selalu terbayang orang-orang yang aku cintai merawatku sejak kecil. Tak terasa air mata mengalir diujung mataku. Aku melihat istriku yang sedang duduk termenung. Tampak cemas dan gelisah diraut wajahnya. Aku tak ingin membebani pikiran istriku, aku coba tegar dan optimis atas kesembuhanku. Aku sudah menikah dan dikaruniai anak perempuan yang cantik. Aku terus bersyukur dalam hidup ini. Walaupun kekurangan yang ada padaku.

Sudah 1 minggu aku terbaring dirumah sakit, perdarahan dikepala ini begitu menyiksaku, sakitnya luarbiasa. Tidur susah, kadang mengigau. Banya kkenangan yang terlintas dibenak ini ketika tengah malam tiba. Tapi kenangan bersama ayah paling sering terlitas. Aku rindu sama ayah. Sudah 1 minggu ini aku tidak ketemu ayah dan ibuku, hanya istri tercinta yang menemaniku dirawat dirumah sakit. Karena jarak rumah sakit yang jauh membuat ayah dan ibuku tidak biasa menemaniku. Selain kesehatan ayah dan ibuku yang sudah usia pensiunan.

Pagi itu seperti biasa kunjungan dokter ketempat pasien dirawat, dokter ahli penyakit dalam

Dan syaraf menyapa aku dan istriku yang sedang menyuapi aku sarapan pagi. Perintah dokter agar aku jangan terlalu banyak bergerak dan turun dari tempat tidurku, akhirnya aku seperti anak kecil kalau ingin makan disuapi, mau buang air kecil pakai pispot. Alhamdulillah semua dilayani istri tercinta dengan tulus dans abar. Terimakasih ya Allah engkau telah datangkan bidadari untuk merawatku.

“ Dari hasil scanning dan cek yang lainnya, Alhamdulillah bapa sudah diperbolehkan pulang hari ini,” ujar dokter menatapku. Mendengar ucapan dokter tersebut seperti mendapat hadiah istimewa bagiaku, aku melirik istri disamping senyum penuh kebahagiaan.Aku langsung teringat sama Ibu Opi yang 3 hari lalu telah meluangkan waktu membawakan obat donasi untuk aku, kalau tidak dibantu obat donasi mungkin akum asih lama di rumah sakit ini. Aku ingin segera pulang bertemu keluarga besarku, anakku, ibu, ayah dan adik-adikku.

Ditengah perjalanan pulang dari rumah sakit HP istriku berdering,aku merasakan berdebar-debar, aku ga enak perasaan. “Dari siapa mah?,” sambil melirik istri disampingku.Istriku terdiam setelah menerima telpon. “daribunda” jawab istriku pelan. Bunda salah satu adik perempuanku. Aku melihat istriku menghela napas panjang dan tertunduk

Begitu aku sampai didepan rumahku banyak orang yang berkerumun, saudara-saudaraku, tetanggaku saling bertatapan dan terdiam ketika aku sampai. Ada apakah gerangan?aku langsung disambut ibu dan adik-adikku. Ibuku memeluk erat tubuhku. Sambil berlinang air mata, aku berjalan keruang tengah melihat sosok yang diselimuti kain putih terbaring ditengah-tengah. Langkahku terhenti melihat sekeliling dan menatap ibu, dan adikku.

“ Ayah udah tiada kak, 2 jam yang lalu terjatuh,” ujar adikku pelan. Aku langsung menghampiri tubuh renta ayahku yang terbujur kaku dan membuka penutup kain diwajahnya. Kaki aku langsung lemas terkulai bersujud didepan jasad ayah. Aku rindu ayah, aku selalu teringat ayah sewaktu aku dirawat dirumah sakit. Aku ingin memelukmu ayah sambil berkata“ Ayah, akupulang…akusehatlagi.., “tapi suara ini parau tertahan dan sesak didada sambil aku mengucapkan Innalillahi…..Ayahku meninggal tepat ketika aku baru pulang dari rumah sakit. Ayah maafkan aku yang selalu menyusahkanmu belum biasa bahagiakan ayah, ayah begitus abarmerawatku sampai sebesar ini. Tidak ada kata mengeluh atau pun sedih dengan keadaanku sebagai penderita hemophilia, Selamat jalan ayah semoga husnul khotimah dan diterima amal ibadah ayah selama di dunia sampai bertemu di surga nanti. Aamiin.(CK)

———

Demikian kami sampaikan Pengumuman Lomba yang kami adakan dan kepada seluruh Pemenang kami ucapkan Selamat atas karyanya. Besar harapan kami, Lomba ini dapat memberikan motifasi untyuk terus berkarya dan mengasah diri agar dapat lebih maju lagi di kemudian hari.

Kepada Pemenang yang akan mendapatkan :
Notebook

Pemenang Lomba Cerita Pendek Kategori Hemophiliac dibawah Usia 18 tahun.

Pemenang Lomba Cerita Pendek Kategori Hemophiliac diatas Usia 18 tahun.

Telepon Pintar (Smart Phone)

Pemenang Lomba Cerita Pendek Kategori Orang tua dan Keluarga

Pemenang Lomba Vlog untuk Kategori Hemophiliac diatas usia 18 tahun

Pemenang Lomba Vlog untuk Kategori Hemophiliac dibawah usia 18 tahun

Panitia Penyelenggara akan menghubungi untuk proses pengiriman hadiah lomba ini.

Terima kasih kami ucapkan kepada Rudi Soedjarwo atas kesediannya menjadi Juri Utama serta Juri lainnya :

Dr. dr Novie Amelia Chozie, SpA(K)

dr. Fitri Primacakti, SpA(K)

Ir Daru Indriyo

Muhammad Gunarso, S.Kom.

Novi Riandini, S.Kom.

Dr. Endang Mariani, MSi

Bogar Baskoro, SKM
yang telah berkenan menjadi Juri ditengah kesibukannya yang sangat padat.

Sebagai penutup, kami juga mengucapkan terima kasih atas dukungan penuh dari Roche Indonesia, sehingga Lomba ini dapat berlangsung dengan baik dan lancar.

Hormat kami,
Prof. dr. Djajadiman Gatot, SpA(K)

Ketua

Indonesian Hemophilia Society

(Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia)

#hemofilia #hemofiliaindonesia #hemophilia #hmhi