TANYA-JAWAB SEPUTAR HEMOFILIA DAN COVID 19

Covid 19 adalah singkatan dari Coronavirus Disease 19, disebabkan oleh virus SARS-CoV 2 (atau yang dikenal dengan corona virus). Virus ini pertama kali mewabah di Wuhan, China, pada pertengahan Desember 2019

  • Gejala klinis akan timbul pada 2-14 hari setelah paparan terhadap kontak yang terinfeksi COVID 19.
  • Sebanyak 20-30% pasien yang terinfeksi tanpa gejala, sisanya menunjukkan gejala infeksi saluran napas atas, mulai ringan hingga berat
    • 55% gejala ringan-sedang
    • 10% gejala berat
    • 5% gejala kritis
  • Dari pasien yang menunjukkan gejala:
    • 20 % — membutuhkan terapi perawatan di rumah sakit
    • 5 % — membutuhkan terapi intensif
    • 2 % — dapat menimbulkan kematian, dan risiko kematian terbesar pada usia tua dan yang memiliki komorbiditas penyakit seperti jantung, diabtetes, hipertensi, atau penyakit paru.
    • Sisanya dapat melakukan isolasi mandiri dibawah pengawasan dokter
  • Gejala COVID 19 yaitu :
    • demam tinggi (suhu tubuh lebih dari 37,3 derajat Celcius)
    • lemas
    • nyeri otot
    • nyeri tenggorokan
    • diare
    • batuk kering (batuk terus menerus tanpa mengeluarkan sputum/dahak), sesak napas (pada derajat berat dapat menimbulkan pneumonia) hingga terjadi Gagal Napas Akut

  • Semua orang memiliki risiko untuk terkena infeksi COVID 19. Seseorang dapat terinfeksi namun tanpa gejala, atau bergejala ringan hingga berat, bergantung daya tahan tubuh yang dialami orang tersebut.
  • Namun, pasien dengan penyakit penyerta (hipertensi, obesitas, diabetes melitus, HIV, kanker, penyakit paru menahun), lansia, serta pasien dalam terapi yang menurunkan daya tahan tubuh jangka panjang seperti obat kanker atau obat lainnya merupakan kelompok yang paling rentan mengalami gejala sedang-berat, hingga fase kritis infeksi COVID 19.
  • Penyandang hemofilia atau orang dengan gangguan perdarahan yang memiliki imunitas baik (imunokompeten), memiliki risiko kecil untuk mengalami infeksi sedang-berat COVID 19.

  • Untuk meminimalkan kunjungan ke unit gawat darurat, usahakan datang ke rumah sakit sesuai jadwal poliklinik jika dirasakan ada keluhan, jangan tunggu sampai keluhan atau perdarahan menjadi parah
  • Tunda semua rencana tindakan elektif seperti sirkumsisi dan tindakan elektif lainnya
  • Lakukan semua anjuran untuk pencegahan tertular infeksi jika terpaksa harus ke luar rumah atau ke rumah sakit untuk berobat, pakai masker untuk pasien maupun pengantar, lakukan cuci tangan sesering mungkin, jaga jarak dengan pasien maupun pengantar lainnya selama di rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit, segera mandi dan berganti pakaian dengan pakaian bersih segera setelah sampai rumah.
  • Istirahat cukup, makan makanan bergizi, dan jangan panik atau stress.
  • Mohon informasikan kepada dokter maupun perawat, apabila anda memiliki gejala demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan.
  • Diskusikan dengan dokter anda kemungkinan untuk melakukan home treatment (penyuntikan mandiri di rumah), bagi penyandang hemofilia atau orang tua yang sudah mampu melakukan penyuntikan sendiri.
  • Jangan kuatir bahwa konsentrat faktor pembekuan yang berasal dari plasma (plasma derived) dapat menyebabkan anda tertular Covid 19, karena konsentrat faktor pembekuan telah diproses melalui prosedur antivirus (ditujukan untuk Hepatitis B, C dan HIV) yang juga efektif untuk mengeliminasi virus Covid 19.
  • Jika anda harus mendapat terapi transfusi komponen darah baik plasma maupun kriopresipitat, diskusikan dengan dokter mengenai keamanan, manfaat dan risiko dari transfusi tersebut.

  • Hindari kontak dengan banyak orang (termasuk dengan individu yang berpotensi sebagai carrier atau pembawa), berdiam di rumah, dan pembatasan sosial (social distancing) merupakan cara yang paling baik untuk memutus rantai penularan.
  • Jumlah orang tanpa gejala diperkirakan sebanyak 30% pada populasi, sehingga saat ini pemakaian masker sangat dianjurkan. Masker N95 dan surgical mask lebih baik daripada masker kain (namun sangat diprioritaskan pada tenaga medis yang memiliki risiko tertinggi terpapar infeksi COVID 19).
  • Jika mungkin, meminimalisir kunjungan ke rumah sakit maupun praktik dokter
  • Paracetamol merupakan pilihan terapi yang direkomendasikan untuk demam pada pasien dengan gangguan perdarahan. Dosis paracetamol tidak dianjurkan melebihi 60 mg/kgBB/hari.
  • Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik, atau dengan hand sanitizer; hindari menyentuh mata, hidung, dan wajah; serta menjaga jarak minimal 2 meter dengan orang lain merupakan kunci penting untuk mencegah penularan.

  • Jelaskan kepada tim dokter bahwa anda penyandang hemofilia atau gangguan perdarahan lainnya, dan apa saja terapi saat ini
  • Sebagian ahli berpendapat bahwa perlu diberikan profilaksis faktor pembekuan, untuk berjaga-jaga jika terjadi perdarahan pada saat batuk keras/bersin keras, atau perdarahan paru
  • Pasien dengan gangguan perdarahan yang mengalami infeksi berat COVID 19 berhak mendapatkan terapi yang sesuai dengan indikasi (seperti ventilator, maupun prosedur medis lainnya), sesuai protokol pengobatan Covid 19
  • Terapi invasif dapat dilakukan sesuai indikasi dan tidak terkecuali pada pasien hemofilia, dengan persiapan pemberian faktor pembekuan sebelumnya.

 
Referensi :

https://news.wfh.org/covid-19-coronavirus-disease-2019-pandemic-caused-by-sars-cov-2-practical-recommendations-for-hemophilia-patients/

Features, evaluation, and treatment COVID-19. Stats Pearl. www.ncbi.nlm.gov.com

Interim Clinical Guidance for Management of Patients with Confirmed Coronavirus Disease (COVID-19). www.who.int 
COVID19 www.CDC.gov